59

Arsitektur Rumah Tambi: Kearifan Lokal Arsitektur Tahan Gempa Warisan Leluhur

Sulawesi Tengah secara geologis terletak di wilayah sabuk gempa yang sangat aktif dengan keberadaan Sesar Palu-Koro yang legendaris. Menariknya, jauh sebelum para insinyur modern menemukan konsep konstruksi bangunan tahan gempa, leluhur masyarakat adat Lore dan Kaili telah mendesain sebuah rumah tinggal tradisional yang sangat adaptif terhadap guncangan alam tersebut. Rumah tradisional itu disebut *Tambi*, sebuah mahakarya arsitektur vernakular yang membuktikan bahwa masyarakat adat memiliki kecerdasan spasial dan pemahaman alam yang luar biasa.

Secara visual, Rumah Tambi berbentuk panggung dengan atap berbentuk prisma segitiga yang sangat dominan, yang sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah. Atap jerami atau ijuk ini menjulur hampir menyentuh tanah, memberikan aerodinamika yang sangat baik terhadap terpaan angin kencang di dataran tinggi. Keunikan struktural yang paling krusial terletak pada sistem fondasinya. Rumah

Tambi tidak menggunakan fondasi semen yang ditanam kaku ke dalam tanah. Tiang-tiang kayu penyangga rumah hanya diletakkan di atas batu alam yang datar (*padu*), dan seluruh sambungan rangka kayu menggunakan sistem pasak kayu dan ikatan tali ijuk tanpa paku besi satu pun.

Konstruksi non-permanen yang fleksibel inilah yang membuat Rumah Tambi sangat aman saat terjadi gempa bumi besar. Ketika tanah bergoyang, struktur bangunan tidak melawan getaran bumi secara kaku melainkan ikut bergoyang secara elastis tanpa mengalami keruntuhan yang fatal. Pasca-bencana gempa dan likuefaksi hebat yang melanda Palu dan sekitarnya beberapa tahun lalu, arsitektur Rumah Tambi kembali dipelajari secara serius oleh para akademisi dan arsitek modern sebagai inspirasi utama dalam merancang hunian ramah bencana di masa depan, membuktikan bahwa kearifan masa lalu selalu relevan untuk menyelamatkan masa depan.

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *