Di masa lampau, sebelum kertas dan gawai menjadi media perekam memori manusia, masyarakat adat di pegunungan Sulawesi Tengah menyimpan sejarah, silsilah keluarga, hukum adat, dan kisah kepahlawanan mereka dalam ingatan kolektif yang dituturkan lewat media sastra lisan. Dua di antara tradisi sastra lisan yang paling adiluhung adalah *Vada* (seni tutur lirik khas Kaili) dan *Rego* (seni vokal berkelompok tanpa instrumen khas suku Bada). Sayangnya, seiring berjalannya waktu dan derasnya arus modernisasi, suara-suara indah dari masa lalu ini kini mulai terdengar sunyi dan terancam punah.
Rego merupakan pertunjukan yang sangat unik karena memadukan seni vokal, sastra, dan gerakan tari sekaligus. Dilakukan oleh sekelompok pria dan wanita yang berdiri rapat membentuk lingkaran, mereka melantunkan syair-syair kuno secara bersahut-sahutan tanpa iringan alat musik satu pun (*akapela*). Ritme pertunjukan sepenuhnya diatur oleh entakan kaki para penari di atas tanah. Lirik-lirik yang dinyanyikan dalam Rego mengandung nilai filosofis yang sangat tinggi, mulai
dari penghormatan kepada sang pencipta alam, nasihat tentang moralitas hidup, hingga ungkapan cinta kasih yang tulus antar sesama warga komunitas adat.
Tantangan terbesar pelestarian Vada dan Rego saat ini adalah hilangnya minat generasi muda untuk mempelajari bahasa daerah kuno yang digunakan dalam syair-syair tersebut. Sebagian besar pelantun Rego yang mahir kini telah berusia lanjut, dan proses pewarisan nilai secara lisan (*oral tradition*) tidak berjalan mulus karena terputus oleh preferensi budaya populer global. Diperlukan upaya dokumentasi digital yang masif, penerjemahan lirik ke dalam bahasa Indonesia dan asing, serta revitalisasi melalui festival budaya sekolah agar sastra lisan yang agung ini tidak berakhir menjadi sekadar catatan kaki di lembaran sejarah sejarah kebudayaan daerah.


Leave A Comment