52

Dero: Lebih dari Sekadar Tari, Simbol Pemersatu dan Kehangatan Masyarakat Poso

Ketika malam mulai merayap di dataran tinggi Poso, dan tabuhan gendang mulai bersahutan, masyarakat dari berbagai usia—tua, muda, anak-anak—mulai berbondong-bondong menuju lapangan terbuka. Mereka tidak datang untuk sekadar menonton, melainkan untuk saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran raksasa yang dinamis, lalu melangkah seirama mengikuti ritme musik. Inilah *Tari Dero* (atau *Madero*), sebuah tradisi kesenian rakyat yang mengekspresikan sukacita kolektif sekaligus menjadi lambang rekonsiliasi dan persaudaraan yang sejati di Sulawesi Tengah.

Asal-usul Tari Dero sangat erat kaitannya dengan tradisi agraris masyarakat suku Pamona di Poso sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen padi (*padungku*). Dalam pelaksanaannya, tidak ada batasan kelas sosial, agama, maupun suku bagi mereka yang ingin bergabung dalam lingkaran Dero. Setiap orang yang masuk ke dalam barisan berhak menggenggam tangan orang di sebelah kiri dan kanannya. Gerakan tariannya pun sangat sederhana namun membutuhkan

kekompakan: dua langkah ke kanan, satu langkah ke kiri, diiringi dengan pantun-pantun jenaka atau lirik lagu bertema cinta dan persahabatan yang dinyanyikan secara spontan.

Lebih dari sekadar hiburan rakyat, Tari Dero memiliki fungsi sosial yang sangat magis dalam merekatkan kembali hubungan sosial kemasyarakatan. Pasca-konflik yang pernah melanda Poso beberapa dekade lalu, Tari Dero menjadi salah satu instrumen budaya paling efektif untuk menyembuhkan luka sosial. Di dalam lingkaran Dero, semua perbedaan identitas melebur dalam kehangatan genggaman tangan dan tawa bersama. Seni tari ini membuktikan bahwa budaya memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa, mampu menyatukan kembali hati yang sempat retak dalam sebuah harmoni gerakan yang indah.

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *