58

Upacara Padungku: Rasa Syukur yang Melimpah dan Tradisi Open House ala Sulawesi Tengah

Setiap tahunnya, pasca-musim panen padi berakhir, suasana di pedesaan Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, dan Morowali akan berubah menjadi sangat meriah dan penuh kehangatan. Jalan-jalan desa dihiasi ornamen janur kuning, pintu-pintu rumah panggung terbuka lebar, dan aroma masakan harum menguar dari dapur-dapur warga. Masyarakat sedang bersiap merayakan *Padungku*, sebuah pesta panen adat tradisional yang merepresentasikan rasa syukur terdalam kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi serta menjadi momen berkumpulnya keluarga besar.

Inti dari upacara Padungku adalah rasa kebersamaan dan kerelaan untuk berbagi. Pada hari perayaan, setiap keluarga akan memasak hidangan tradisional dalam jumlah besar, termasuk hidangan wajib bernama *Nasi Bambu* (*Inuyu*), yaitu beras ketan yang dimasak di dalam selongsong bambu muda dengan santan lalu dibakar di atas bara api. Hal yang paling luar biasa dari tradisi Padungku adalah konsep *open house* massal yang diterapkan. Pintu setiap rumah terbuka lebar bagi

siapa saja yang lewat—tanpa memandang suku, agama, status sosial, maupun apakah mereka saling mengenal atau tidak—untuk dipersilakan masuk dan makan bersama.

Di tengah modernisasi yang cenderung membuat masyarakat menjadi lebih individualis, tradisi Padungku tetap bertahan sebagai oase kerukunan sosial yang sangat sejuk. Tradisi ini memperkuat kembali jaring-jaring solidaritas sosial di pedesaan, menghapus sekat-sekat perbedaan, dan menegaskan kembali identitas kolektif masyarakat Sulawesi Tengah sebagai masyarakat yang ramah, gemar berbagi, dan selalu bersyukur atas setiap rezeki yang mereka terima dari alam semesta.

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *