Di semenanjung pantai barat Sulawesi Tengah, suara entakan kayu terdengar berirama dari kolong-kolong rumah panggung masyarakat Donggala. Bunyi “peta-peta” tersebut berasal dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang digerakkan oleh jemari terampil para perempuan penenun. Tenun Donggala bukan sekadar lembaran kain penutup tubuh; ia adalah kitab sejarah yang ditulis dalam bentuk jalinan benang sutra dan katun. Melalui helaiannya, masyarakat Donggala merekam interaksi mereka dengan para pedagang asing, keindahan alam pesisir, hingga struktur sosial kerajaan masa lalu.
Secara historis, Kabupaten Donggala merupakan salah satu pelabuhan terpenting di jalur perdagangan Nusantara bagian timur. Letak geografis yang strategis ini mempertemukan peradaban lokal dengan para pelaut dari Bugis, Mandar, Arab, Tiongkok, hingga India. Akibatnya, motif Tenun Donggala menjadi sangat kaya dan bervariasi. Beberapa motif legendaris yang masih bertahan hingga hari ini antara lain Subi (sulaman emas yang menyerupai ukiran istana), Kombong (motif kotak-kotak besar yang melambangkan kebersamaan), dan Buya Sabe (sutra halus yang dahulu dikhususkan untuk kalangan bangsawan).
Sumber: Anataranews.com
Setiap goresan warna dan pola pada kain ini memiliki aturan spiritual yang ketat. Warna merah tua melambangkan keberanian dan kepemimpinan para tetua adat, hijau mewakili kesuburan tanah pegunungan, sedangkan kuning keemasan menyimbolkan kejayaan dan kemuliaan bagi pemakainya. Dalam upacara pernikahan adat Kaili, kain Donggala memegang peranan krusial sebagai bagian dari hantaran maskawin (*gantove*) dan pakaian kebesaran pengantin.Menenun satu lembar kain Donggala berkualitas tinggi dapat memakan waktu berminggu-minggu bahkan bulanan, sebuah dedikasi luar biasa yang membuat warisan wastra ini tetap bernilai tinggi di tengah gempuran industri tekstil modern.
Batik Bomba: Sentuhan Modernitas dalam Sehelai Kain Warisan Sulawesi Tengah
Sumber: Detik.com
Ketika berbicara tentang batik, ingatan sebagian besar masyarakat akan langsung tertuju pada Pulau Jawa. Namun, di bawah langit khatulistiwa Kota Palu, lahir sebuah identitas visual baru yang tidak kalah memikat bernama Batik Bomba. Istilah “Bomba” sendiri dalam bahasa lokal Kaili berarti keterbukaan atau kebersamaan. Sifat inklusif inilah yang tercermin dalam setiap motif yang digambar di atas kain katun maupun sutra berkualitas tinggi, menjadikannya salah satu ikon budaya kebanggaan Sulawesi Tengah yang paling dinamis saat ini.
Keunikan utama Batik Bomba terletak pada keberaniannya mengadopsi flora, fauna, dan simbol-simbol kearifan lokal yang hidup berdampingan dengan masyarakat Palu. Motif yang paling populer adalah bunga cengkeh yang merepresentasikan kemakmuran hasil bumi, burung maleo yang melambangkan kesetiaan dan kelangkaan, serta rumah adat Tambi yang melambangkan perlindungan. Berbeda dengan batik daerah lain yang cenderung menggunakan
warna-warna tanah yang teduh, Batik Bomba berani tampil mencolok dengan warna-warna cerah seperti merah menyala, kuning kunyit, hijau zamrud, dan biru laut yang mencerminkan karakter masyarakat pesisir Teluk Palu yang ekspresif dan ramah.
Sumber: Good News From Indonesia
Saat ini, Batik Bomba tidak lagi dianggap sebagai pakaian formal orang tua untuk acara kedinasan saja. Melalui tangan kreatif desainer lokal dan dorongan dari para penggerak budaya, batik ini telah menjelma menjadi tren gaya hidup modern. Anak-anak muda memakainya dalam bentuk pakaian kasual, jaket bomber, hingga aksesoris seperti tas dan ikat kepala.
Batik Bomba kini menjelma menjadi jembatan estetis yang menghubungkan nilai-nilai tradisional leluhur dengan selera modernitas generasi masa kini yang bangga akan identitas daerahnya.
Kembali ke Alam: Rahasia Pembuatan Kain Kulit Kayu (Mulo) Khas Lembah Bada

Sumber: Mongabay
Jauh di pedalaman Lore Barat, tepatnya di dataran tinggi Lembah Bada yang dikelilingi hutan hujan tropis yang rimbun, tersimpan salah satu teknologi tekstil tertua di dunia yang masih eksis hingga hari ini. Masyarakat setempat menyebutnya kain kulit kayu atau Mulo (di beberapa tempat dikenal juga dengan sebutan Rhea). Di saat dunia beralih ke serat sintetis yang instan, para perempuan paruh baya di Lembah Bada masih dengan setia menemani ketukan palu kayu di atas bilah batang pohon, mempertahankan tradisi pembuatannya yang sepenuhnya bergantung pada kebaikan alam sekitar.
Proses pembuatan kain kulit kayu ini membutuhkan kesabaran luar biasa dan pemahaman mendalam tentang botani lokal. Kulit kayu yang digunakan tidak sembarangan; umumnya berasal dari pohon beringin hutan (*nunu*) atau pohon kertas (*ivo*). Setelah dikuliti, bagian dalam kulit kayu yang berserat direbus berjam-
jam untuk melunakkannya. Proses selanjutnya adalah *pola*, yaitu memukul-mukul serat kayu menggunakan pemukul khusus yang terbuat dari batu atau kayu keras berlekuk (*ike*). Serat dipukul terus-menerus hingga melebar, menipis, dan saling menyatu membentuk lembaran kain yang lembut namun kuat.
Sumber: LikeindIndones
Untuk pewarnaannya, masyarakat Lore sepenuhnya menggunakan bahan-bahan organik yang diambil langsung dari hutan. Warna cokelat tua didapatkan dari rendaman lumpur sawah, warna kuning diperoleh dari parutan kunyit liar, sedangkan warna hijau didapatkan dari perasan daun tanaman hutan khusus. Pakaian dari kulit kayu ini memiliki karakteristik yang sangat unik: terasa hangat saat udara dingin di pegunungan, namun tetap sejuk saat dikenakan di bawah terik matahari. Kain kulit kayu Lembah Bada adalah representasi nyata dari hubungan harmonis antara manusiadan alam, sebuah kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk hidup selaras tanpa merusak lingkungan.

Leave A Comment