Peringatan Hari Buruh (Mayday) yang digelar di Millenium Waterpark Palu menjadi agenda berbeda dari biasanya. Dihadiri oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah serta seluruh Kepala Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Minggu (03/04/2026).
Ketua panitia, Abd. Wahyudin, melontarkan gagasan menarik: menggenapkan 9 Berani menjadi 10 Berani, dengan tambahan “Berani Mensejahterakan Kebutuhan Buruh”. Ia merujuk pada kajian agama Islam dan feng shui yang menganggap angka 10 sebagai pembawa keberuntungan. Secara politis, usul ini adalah pengingat bahwa program “9 Berani” sebagai jaring pengaman sosial belum cukup jika inti kebutuhan buruh—upah layak, jaminan kerja, dan rumah layak huni—belum sepenuhnya teratasi.
Gubernur Anwar Hafid sendiri mengakui kompleksitasnya. Ia bercerita dengan blak-blakan: ketika menjadi Bupati Morowali, ia sempat dianulir (dibatalkan) oleh Pemerintah Provinsi karena menetapkan Upah Minimum Sektoral yang tinggi. Anulir, yang kita pahami dalam bahasa sehari-hari sebagai pembatalan kebijakan, menjadi tamparan bahwa birokrasi berjenjang kerap menghambat niat baik. Namun, Anwar Hafid membuktikan perjuangan tidak berhenti. Smelter Morowali hadir setelah ia terbang ke China, meski harus melewati konfrontasi.
Narasi yang paling mengena adalah pengakuan pribadi Gubernur: lahir dari buruh, ia pernah menjadi sopir truk, menggoreng rotan, memupuk kelapa, tukang kayu, hingga buruh bangunan. Di tahun 2007, ia diorbitkan Partai Buruh dengan tagline “Dibawah Sinar Bulan dan Bintang, Buruh Damai Sejahtera”. Ini bukan sekadar nostalgia, tetapi legitimasi bahwa pemimpin yang benar-benar merasakan kerasnya hidup buruh akan memiliki empati kebijakan.
APINDO lewat bapak Wijaya Chandra yang biasa disapa Koh Awi mengajak buruh “naik level” dan KSBSI melalui Henri Hutabarat turut memberi dukungan. Namun, kenaikan level tidak akan terjadi tanpa kepastian upah. Gubernur menyebut fakta memilukan: masih ada buruh berpenghasilan Rp600.000 per bulan, dan sekitar 70.000 rumah tidak layak huni di Sulteng. Jika kemiskinan masih di angka 311.000 jiwa, maka jargon “Sulteng Nambaso” (yang berarti Besar, Maju) hanya akan menjadi slogan kosong.
Yang patut diapresiasi adalah gebrakan transparansi: konsultasi seusai salat subuh, layanan Berani Samporoa, hingga nomor WhatsApp 0811666222. Juga pelatihan bahasa Mandarin yang mulai berlaku 22 April 2026. Ini langkah maju mengingat banyak investasi China di Morowali. Buruh yang menguasai bahasa Mandarin setidaknya memiliki daya tawar lebih tinggi.
Ibu Suryani, seorang cleaning service RS Anutapura, yang beruntung mendapat motor matic dari Gubernur adalah kilasan kecil bahwa keberpihakan bisa diwujudkan dalam aksi nyata, meskipun tentu tidak cukup dengan undian. Hadiah motor bukan solusi struktural, tapi setidaknya menjadi pengakuan bahwa pekerja kebersihan juga layak mendapat perhatian.
Peringatan Mayday tahun ini di Sulawesi Tengah meninggalkan pesan ditutup dengan Empat pantun yang dituturkan Gubernur menambah semarak: “Sulteng Nambaso bukan sekadar nama, nyata melayani buruh pun sejahtera.” Kalimat itu indah di bibir, tetapi akan lebih indah jika terwujud dalam kenaikan UMP, perbaikan rumah layak huni, dan penghapusan diskriminasi upah. Selamat Mayday untuk buruh Sulteng dan seluruh Indonesia. Saatnya keberanian tidak hanya diucapkan, tetapi dialokasikan dalam anggaran dan kebijakan.
Sumber: PPID Pelaksana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.


Leave A Comment